Berikut adalah kisah lengkap dan mendalam mengenai perayaan akbar tersebut, yang dirangkai untuk menangkap setiap detik keagungan acara HUT Yayasan Kristen Providensia dan Sekolah Tinggi Teologi (STT) Providensia yang ke-27.
JEJAK KEMULIAAN: KRONIK HUT KE-27 YAYASAN & STT PROVIDENSIA
Tanggal: Kamis, 5 Februari 2026
Lokasi: GBI AGAPE
Tema Visual: Royal Blue & Golden Majesty
Matahari pagi di tanggal 5 Februari 2026 belum sepenuhnya menampakkan diri, namun kesibukan di kampus Sekolah Tinggi Teologi Providensia sudah terasa begitu hidup, seolah udara itu sendiri bergetar menantikan sebuah momentum besar. Hari ini bukan sekadar hari biasa; ini adalah penanda dua puluh tujuh tahun perjalanan iman, sebuah angka yang melambangkan kedewasaan, ketahanan, dan penyertaan Ilahi yang tak terputus bagi Yayasan Kristen Providensia dan institusi pendidikannya. Sejak pukul enam pagi, panitia yang mengenakan seragam bertema biru kerajaan (royal blue) dengan aksen emas tampak hilir mudik memastikan setiap detail dekorasi terpasang dengan sempurna, menciptakan suasana yang tidak hanya khidmat tetapi juga megah. Gerbang utama kampus telah dihias dengan janur kuning melengkung indah yang dipadukan dengan pita-pita emas raksasa, menyambut setiap tamu yang akan melangkah masuk ke dalam sejarah baru institusi ini.
Di aula utama, transformasi visual yang terjadi sungguh mencengangkan; ruangan yang biasanya sederhana kini berubah menjadi sebuah ballroom surgawi dengan konsep “Epic Design” yang telah dipersiapkan berbulan-bulan lamanya. Tirai-tirai beludru berwarna biru tua menjuntai dari langit-langit setinggi sepuluh meter, diikat dengan tali tambang emas yang berkilauan tertimpa cahaya lampu sorot. Di bagian tengah panggung, berdiri sebuah instalasi tulisan 3D raksasa berbunyi “YAYASAN KRISTEN PROVIDENSIA DAN SEKOLAH TINGGI TEOLOGI PROVIDENSIA” yang memancarkan cahaya keemasan lembut, persis seperti desain visual yang telah dirancang sebelumnya, menciptakan titik fokus yang mengagumkan bagi siapa saja yang memandang. Lantai panggung dilapisi karpet merah marun yang tebal, kontras dengan dominasi warna biru dan emas di sekelilingnya, memberikan kesan wibawa yang mendalam.
Di sudut-sudut ruangan, rangkaian bunga segar yang terdiri dari mawar putih, lili, dan baby’s breath disusun menjulang tinggi dalam vas-vas kristal, menyebarkan aroma harum yang menenangkan ke seluruh penjuru aula. Sound system berkekuatan ribuan watt telah diuji berulang kali, memastikan bahwa setiap kata sambutan, setiap nada pujian, dan setiap doa yang dipanjatkan akan terdengar jernih hingga ke sudut terjauh ruangan, bahkan bagi mereka yang mengikuti secara daring. Layar LED raksasa di kiri dan kanan panggung menampilkan loop video sejarah perjalanan 27 tahun Providensia, menampilkan foto-foto hitam putih dari masa perintisan hingga klip video 4K dari wisuda tahun lalu, membangkitkan nostalgia dan rasa syukur yang mendalam.
Tepat pukul sembilan pagi, deretan kendaraan mulai memadati area parkir yang telah ditata rapi, membawa para tamu undangan yang terdiri dari tokoh gereja, alumni yang kini tersebar di seluruh nusantara, pejabat pemerintah setempat, hingga para donatur setia. Suasana penyambutan di depan lobi utama terasa begitu hangat namun elegan; para mahasiswa tingkat akhir berdiri berjajar membentuk pagar betis, menyalami setiap tamu dengan senyum merekah dan ucapan “Selamat Datang di Rumah Providensia”. Alunan musik instrumental orkestra yang memadukan biola dan piano terdengar mengalun lembut dari pengeras suara di koridor, mengantar langkah para hadirin menuju ruang ibadah utama dengan hati yang teduh.
Tampak hadir Ketua Yayasan dengan setelan jas biru tua yang necis, dasi emasnya berkilau serasi dengan tema acara, wajahnya memancarkan kebanggaan sekaligus kerendahan hati seorang pelayan yang telah melihat tangan Tuhan bekerja selama hampir tiga dekade. Beliau berhenti sejenak di depan photo booth yang didesain menyerupai gerbang kerajaan kuno, menyempatkan diri berfoto bersama para pendiri dan dosen senior yang rambutnya telah memutih termakan usia namun semangatnya tetap menyala-nyala. Momen-momen reuni kecil terjadi di sana-sini; pelukan hangat antara dosen dan mantan mahasiswa, tawa lepas mengenang masa-masa sulit di gedung lama, serta air mata haru melihat bagaimana benih kecil itu kini telah tumbuh menjadi pohon rindang yang menaungi banyak orang.
Tepat pukul 09:30 WIB, lonceng kapel berdentang sebanyak 27 kali, sebuah tradisi baru yang diperkenalkan tahun ini untuk menandai jumlah tahun penyertaan Tuhan. Dentangan itu bergema ke seluruh kompleks, menghentikan sejenak percakapan, dan mengajak semua orang untuk segera memasuki ruang ibadah utama. Saat pintu-pintu besar aula dibuka, hembusan udara sejuk dari pendingin ruangan bercampur dengan aroma bunga menyambut ribuan hadirin yang mulai mengisi kursi-kursi yang ditata presisi. Di barisan depan, kursi-kursi khusus dengan label nama berwarna emas telah diduduki oleh para VIP, sementara balkon atas dipenuhi oleh mahasiswa aktif yang mengenakan almamater kebanggaan mereka, menciptakan lautan warna yang harmonis.
Lampu ruangan perlahan meredup, menyisakan kegelapan yang hening selama beberapa detik, sebelum sorot lampu follow spot membelah kegelapan dan menyinari mimbar utama. Seorang pemimpin pujian (Worship Leader) naik ke atas panggung dengan langkah tegap namun penuh hormat, diiringi oleh tim musik yang lengkap mulai dari drum, bass, gitar elektrik, hingga seksi brass (terompet dan saksofon) yang siap menggelegarkan ruangan. “Selamat Pagi, Keluarga Besar Providensia! Apakah Saudara siap memuliakan nama Tuhan yang telah menyertai kita selama 27 tahun?” serunya, yang langsung disambut dengan tepuk tangan gemuruh dan sorak-sorai yang menggetarkan dinding aula.
Intro musik lagu “Besar Setia-Mu” dimainkan dengan aransemen orkestra modern yang megah, dan ketika jemaat mulai bernyanyi, suara ribuan orang itu menyatu menjadi paduan suara raksasa yang menaikkan frekuensi spiritual di ruangan tersebut. Di layar LED, lirik lagu ditampilkan dengan latar belakang animasi awan yang bergerak dan sinar matahari, memperkuat pesan tentang kesetiaan Tuhan yang tak berkesudahan. Tidak ada satu pun hadirin yang duduk diam; tangan-tangan terangkat ke atas, mata-mata terpejam meresapi setiap kata, dan air mata syukur mulai menetes di pipi banyak orang, terutama para pendiri yang mengingat betapa mustahilnya perjalanan ini di mata manusia.
Setelah sesi pujian yang energik, suasana berubah menjadi syahdu ketika tim paduan suara STT Providensia, yang berjumlah 100 orang, menaiki panggung dengan jubah biru-emas mereka yang berkilauan. Mereka membawakan lagu gubahan khusus berjudul “Providensia: Tangan Tak Terlihat”, sebuah lagu yang liriknya menceritakan tentang penyediaan Tuhan di tengah kekeringan dan perlindungan-Nya di tengah badai. Harmoni suara sopran yang melengking tinggi, dipadu dengan suara bass yang bulat dan tenor yang kuat, menciptakan dinamika musikal yang membuat bulu kuduk merinding saking indahnya. Di tengah lagu, seorang solois wanita dengan suara powerful maju ke depan, menyanyikan bagian bridge dengan penuh penghayatan hingga mencapai nada tinggi yang sempurna, diakhiri dengan tepuk tangan panjang dari seluruh hadirin yang terpukau (seperti yang terlihat jelas pada menit ke-45 dalam siaran langsung).
Puncak dari ibadah syukur ini adalah pemberitaan Firman Tuhan. Ketua STT Providensia, seorang Doktor Teologi yang disegani, naik ke mimbar dengan membawa Alkitab tua yang telah dipakainya sejak awal berdirinya sekolah ini. Ia membuka khotbahnya dengan tema “Ebenezer: Sampai di Sini Tuhan Telah Menolong Kita”, namun dengan penekanan pada visi ke depan, bukan sekadar nostalgia masa lalu. Suaranya yang bariton dan berwibawa memenuhi ruangan, mengajak jemaat untuk tidak terlena dengan pencapaian 27 tahun, melainkan melihatnya sebagai fondasi untuk lompatan iman yang lebih besar di dekade mendatang.
“Dua puluh tujuh tahun bukanlah akhir,” tegasnya sambil menunjuk ke arah tulisan ‘Providensia’ yang bersinar di belakangnya, “Ini adalah titik awal kedewasaan. Sama seperti Yusuf yang dipersiapkan Tuhan melalui berbagai ujian untuk menyelamatkan bangsanya, demikianlah STT ini telah ditempa untuk menjadi berkat bagi bangsa Indonesia.” Ia menguraikan tiga pilar utama visi masa depan Providensia: Ekspansi Digital, Integrasi Teologi dan Masyarakat, serta Misi Global. Setiap poin yang disampaikannya disertai dengan data dan rencana strategis yang konkret, menunjukkan bahwa institusi ini tidak hanya berjalan dengan iman buta, tetapi juga dengan hikmat dan perencanaan yang matang.
Khotbah ditutup dengan sebuah panggilan komitmen. Para dosen dan staf diminta maju ke depan altar, berlutut, dan didoakan secara khusus oleh para hamba Tuhan senior. Momen ini sangat emosional; diiringi instrumen piano yang lembut, Ketua Yayasan menumpangkan tangan memberkati para pengajar, memohon urapan baru agar mereka dapat mencetak pemimpin-pemimpin gereja masa depan yang berkualitas. Kamera siaran langsung menangkap detail wajah-wajah yang penuh haru, air mata yang jatuh ke lantai karpet merah, dan tangan-tangan yang saling bertautan dalam doa kesatuan, sebuah pemandangan yang menyentuh hati ribuan penonton yang menyaksikan via YouTube.
Usai ibadah, suasana kembali cair dan meriah saat pembawa acara (MC) mengumumkan masuknya kue ulang tahun raksasa. Kue ini bukanlah kue biasa; tingginya mencapai dua meter, terdiri dari 5 tingkat, didesain menyerupai menara kapel kampus dengan detail ornamen yang sangat rumit berwarna biru dan emas. Di puncaknya, angka “27” terbuat dari gula kristal yang bisa menyala, berputar perlahan. Kue tersebut didorong masuk ke tengah panggung oleh perwakilan mahasiswa dari berbagai angkatan, diiringi lagu “Happy Birthday” versi jazz yang dimainkan oleh band kampus.
Prosesi pemotongan kue dilakukan oleh Ketua Yayasan didampingi oleh Ketua STT dan para pendiri. Namun, ada yang unik dalam perayaan kali ini. Sebelum kue dipotong, panitia menayangkan sebuah video mapping yang diproyeksikan langsung ke permukaan kue raksasa tersebut, menampilkan animasi perjalanan waktu dari tahun 1999 hingga 2026. Penonton berdecak kagum melihat teknologi visual canggih yang digunakan, membuktikan bahwa STT Providensia juga adaptif terhadap perkembangan zaman dan teknologi. Potongan kue pertama tidak diberikan kepada pejabat, melainkan kepada seorang staf kebersihan yang telah mengabdi paling lama (sejak hari pertama yayasan berdiri), sebuah gestur simbolis yang menegaskan nilai “melayani, bukan dilayani” yang dipegang teguh oleh institusi ini.
Langit-langit panggung kemudian meledakkan confetti berwarna emas dan biru metalik, menghujani panggung dan area VIP, menciptakan efek visual yang spektakuler untuk foto bersama. Di saat yang sama, sirene tanda perayaan dibunyikan, dan spanduk raksasa bertuliskan “Menuju 30 Tahun Providensia Emas” diturunkan dari langit-langit belakang, mengejutkan semua orang dan memicu tepuk tangan yang tak henti-hentinya selama lima menit penuh.
Acara berlanjut ke sesi ramah tamah yang diadakan di taman tengah kampus, yang telah disulap menjadi area garden party dengan tenda-tenda dekoratif bergaya Eropa. Menu makanan yang disajikan adalah “Kuliner Nusantara”, mengingatkan pada tema keberagaman yang sering diangkat oleh kampus ini. Ada stand sate Padang, soto Banjar, gudeg Jogja, hingga konro Makassar, memanjakan lidah para tamu undangan. Sambil menikmati hidangan, para tamu dihibur oleh penampilan talenta-talenta mahasiswa, mulai dari tarian daerah kontemporer hingga ansambel musik tradisional angklung yang membawakan lagu-lagu rohani.
Di salah satu sudut taman, terdapat pameran foto sejarah bertajuk “Lorong Waktu Providensia”, di mana para alumni bisa mencari wajah mereka di foto-foto lama wisuda atau kegiatan kampus. Gelak tawa terdengar riuh di area ini, bercampur dengan seruan kaget saat seseorang menemukan foto dirinya dua puluh tahun yang lalu. Tidak sedikit pula yang memanfaatkan booth video 360 derajat untuk membuat konten media sosial, dengan latar belakang logo HUT ke-27 yang futuristik, memviralkan acara ini ke seluruh platform digital.
Ketika matahari mulai condong ke barat dan acara mendekati akhirnya, Ketua Panitia naik ke panggung kecil di taman untuk menyampaikan ucapan terima kasih penutup. “Hari ini kita telah menyaksikan kebaikan Tuhan. Biarlah apa yang kita rayakan hari ini menjadi bahan bakar semangat kita untuk esok hari,” ujarnya menutup acara. Satu per satu tamu mulai berpamitan, membawa pulang souvenir eksklusif berupa buku sejarah Providensia edisi terbatas dan tumbler berlogo emas. Meski acara fisik telah usai, gema sukacita dan semangat pembaharuan yang dinyalakan pada hari Kamis, 5 Februari 2026 itu, dipastikan akan terus menyala, menerangi langkah Yayasan dan STT Providensia menuju masa depan yang lebih gemilang.
Saksikan kembali kemegahan dan momen spiritual acara ini melalui tautan resmi berikut: NONTON REKAMAN LIVE STREAMING DI SINI


