Cerita Pendek Dua Saudari dari Sebuah Desa Kecil: Marta dan Maria
Tulisan ini kembali hadir dalam ibadah pagiku. Sebuah cerita singkat tentang dua saudari dari sebuah desa kecil bernama Marta dan Maria. Saya yakin kita semua sudah sering membaca cerita ini, namun pada momen indah ini, saya mengajak Anda untuk membacanya sekali lagi.
Ketika Yesus dan murid-murid-Nya dalam perjalanan, Ia tiba di sebuah desa di mana seorang perempuan bernama Marta membuka rumahnya untuk-Nya. Ia memiliki seorang saudari bernama Maria, yang duduk di kaki Tuhan sambil mendengarkan perkataan-Nya. Namun Marta disibukkan oleh segala persiapan yang harus dibuat. Ia datang kepada Yesus dan berkata, “Tuhan, tidakkah Engkau peduli bahwa saudari saya meninggalkanku bekerja sendirian? Suruhlah dia menolongku!” Jawab Tuhan, “Marta, Marta, engkau cemas dan menyusahkan diri tentang banyak perkara, tetapi hanya satu perkara yang penting. Maria telah memilih bagian yang terbaik, yang tidak akan diambil dari padanya.” (Lukas 10:38-40)
Menarik untuk diketahui bahwa Marta adalah orang yang membuka rumahnya bagi Yesus, namun justru dia kehilangan waktu yang paling berharga bersama-Nya. Saya yakin Marta tidak hanya mengundang Yesus ke rumahnya untuk menyediakan makanan dan tempat beristirahat. Saya benar-benar yakin bahwa ia juga ingin mendengarkan firman-Nya sama seperti Maria. Dalam cerita ini, penulis membandingkan dua wanita ini dalam menanggapi kehadiran Yesus saat itu.
…Maria duduk di kaki Tuhan mendengarkan perkataan-Nya. Namun Marta disibukkan dengan segala persiapan yang harus dilakukan.
Marta menjadi sibuk…!! Perhatiannya teralihkan; ia kehilangan fokus pada hal yang paling penting karena semua persiapan yang menurutnya harus selesai. Yesus mengatakan bahwa ia cemas dan gelisah karena banyak hal. Perasaan ini kemudian memunculkan frustrasi dalam hatinya sehingga yang bisa ia lakukan hanyalah mengeluh. Tidak hanya mengeluh tentang pilihan yang diambil Maria, tetapi juga mengeluh kepada Yesus, tamu kehormatannya sendiri, karena ia merasa Yesus tidak peduli kepadanya dan membiarkan Maria tidak membantu kerja kerasnya. Marta kehilangan satu momen seumur hidup untuk dekat dengan Yesus dan mendengarkan firman-Nya karena ia terdistraksi…!! Marta telah memilih suatu pekerjaan baik yang menurutnya tepat saat itu. Namun Yesus mengajarinya bahwa hanya satu hal yang penting; hal yang tidak akan diambil darinya. Hal yang dipilih Maria, duduk di kaki Tuhan mendengarkan firman-Nya.
Bukankah hidup kita seperti kisah ini? Begitu banyak yang harus dilakukan, begitu banyak yang menuntut perhatian kita. Kadangkala sangat sulit untuk menentukan mana yang paling penting dan memilih satu hal utama dari semua pilihan. Keluarga yang harus dirawat, bekerja keras hingga larut malam demi penghidupan, melayani orang lain, belajar, teman, masa depan, masalah… semuanya dan semua orang meminta perhatian kita. Tidak ada yang lebih sedikit penting dari yang lain. Kita terdistraksi, kita khawatir dengan banyak hal, dan kehilangan fokus dalam hidup singkat yang diberikan Tuhan kepada kita. Kita pikir bahwa apa yang kita lakukan sudah benar dan berhak mengeluh saat sesuatu yang tidak terduga dan di luar rencana terjadi, mengacaukan “dunia” kita.
Kadang, sesuatu yang baik yang kita lakukan saat ini belum tentu hal yang benar di mata Tuhan. Marta memulai dengan baik dengan membuka rumahnya untuk Yesus, tetapi ia gagal memilih hal yang lebih baik untuk dilakukan ketika Yesus sudah berada di rumahnya. Kita telah membuka hati kita bagi Yesus; membiarkan Dia masuk ke dalam hidup kita. Jangan sia-siakan perjalanan indah bersama Tuhan semesta alam karena kita gagal memilih yang terbaik di tengah banyak pilihan baik di sekitar kita. Kewajiban kita adalah dekat dengan-Nya setiap hari, mengenal hati-Nya, kehendak-Nya bagi kita, agar kita dapat memilih yang terbaik; hal yang tidak akan diambil darinya; pilihan yang kekal.
“Tinggallah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu. Sama seperti ranting tidak dapat berbuah dari dirinya sendiri jika ia tidak tinggal pada pokok anggur, demikian juga kamu jika tidak tinggal di dalam Aku.” (Yohanes 15:4)


